10 Juli 2020

bacaan santai sambil ngopi

Danau bekas galian pasir di belakang pabrik Torabika, Cikupa.

Danau Bekas Galian Pasir Memakan Korban Jangan Lagi Terulang

PERISTIWA korban tenggelam di bekas galian pasir di wilayah Kabupaten Tangerang, sudah sering kali terjadi. Mulia dari bekas galian yang dijadikan sebagai obyek wisata hingga bekas galian yang dibiarkan begitu saja.

Pemicunya, bukan sekadar karena faktor kelalaian masyarakat, atau kurangnya kesadaran dalam menyikapi perubahan lingkungan dari daratan menjadi danau yang disengaja akibat penambangan secara liar itu. Namun perlu ada tekanan yang kuat dari pemerintah: mulai dari bagaimana menyikapi maraknya penambangan liar yang berpotensi mengubah bentuk geografis, kerusakan lingkungan, hingga dampak keselamatan bagi masyarakat.

Di Kabupaten Tangerang, terdapat puluhan, atau malah mungkin hampir ratusan bekas galian pasir yang berubah bentuk menjadi danau, telaga dan sejenisnya. Dari sekian banyak, memliki kedalaman serta variasi bentuk yang beragam, dan semua memiliki risiko yang cukup tinggi terhadap keselamatan warga, terutama yang berada di sekitarnya.

Dari catatan redaksi, di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), tingkat kedatangan masyarakat ke lokasi-lokasi bekas galian pasir semacam ini, cukup meningkat. Selain menghilangkan kejenuhan akibat terlalu banyak di rumah karena diputuskan hubungan kerja, pekerjaan dirumahkan, juga ingin mencari sumber makanan yang bisa memangkas anggaran kebutuhan dapur akibat dampak ekonomi, yaitu mencari ikan: memancing, menjala, atau cara lainnya untuk mendapatkan lauk gratis tersebut.

Nah, kondisi ini perlu menjadi kewaspadaan bersama untuk saling mengingatkan. Karena, kondisi danau bekas galian yang rata-rata memiliki kedalaman yang cukup ekatrim itu, telah menjadi harapan baru bagi masyarakat: baik dalam memenuhi sumber gizi yang gratis dari ikan yang hidup di dalamnya, hingga anak-anak yang meluangkan waktu karena terlalu lama meninggalkan gedung sekolah, dan banyaknya tempat wisata air yang ditutup akibat pandemi global yang sudah mewabah di lebih dari 200 negara di dunia tersebut.

Semoga, insiden buruk yang menimpa ABG belasan tahun, Ramadhan alias Ama yang hilang tenggelam hingga lebih dari 24 jam di danau bekas galian pasir di Kampung Pulo, Desa Bitung Jaya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, belum diketemukan tersebut, bisa mengingatkan bahwa danau atau rawa bekas galian pasir itu sangat berbahaya dan bisa membunuh nyawa manusia.

Aparatur pemerintah juga harus bisa membantu mencarikan solusi terbaik, serta bisa memberikan tekanan yang kuat kepada semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang.

Tak kalah penting, jumlah danau akibat galian liar ini jangan sampai bertambah lagi. Karena, masyarakat lah yang dirugikan! Tenggelam, hilang, dan nyawa melayang, gaes.

Dan, jika masih ada penambangan liar yang berakibat rusaknya lingkungan serta mengubah bentuk geografis wilayah, hal ini tidak sekadar akan menambah kejadian serupa, tapi juga mengancam hilangnya peradaban.

Oleh: Widi Hatmoko