10 Juli 2020

bacaan santai sambil ngopi

Kesenian Degung yang dimainkan siswi SMA Negeri 12 Kabupaten Tangerang.

Di Tangerang, Seni Degung Masih Tetap Dijaga Kelestariannya

DEGUNG merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda, Jawa Barat. Ada dua pengertian tentang istilah Degung; yaitu Degung sebagai nama perangkat gamelan; Degung sebagai nama laras bagian dari laras salendro (berdasarkan teori Raden Machjar Angga Koesoemadinata).

Degung sebagai unit gamelan dan Degung sebagai laras memang sangat lain. Dalam teori tersebut, laras Degung terdiri dari Degung dwiswara (tumbuk: (mi) 2 – (la) 5) dan Degung triswara: 1 (da), 3 (na), dan 4 (ti).

Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat ini, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa Degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat), Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat).

Menurut beberapa asumsi dan dugaan-dugaan masyarakat Sunda, mengatakan, Degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman; yang kemudian dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “Degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan).

Jadi, Degung sendiri mengandung pengertian, kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “Degung” dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah “Degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “De gong” (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini mengandung pengertian “penclon-penclon yang digantung”.

Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di Keraton Kasepuhan (gamelan Dengung) adalah gamelan Degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Kornel), Bupati Sumedang (1791—1828).

Selain di Bandung, Cianjur, Sumedang, Ciamis dan sekitarnya, Degung juga terdapat di wilayah Kabupaten Tangerang. Kesenian ini juga menjadi bagian dari kearifan lokal, atau kesenian tradisional masyarakat di daerah tersebut. Hingga kini, kesenian Degung masih tetap dilestarikan, terutama di sekolah-sekolah. Salah satunya adalah di sekolah SMA Negeri 12 Kabupaten Tangerang. Di sekolah ini, kesenian Degung dimainkan oleh para pelajar putri, dan menjadi salah satu pelajaran ekstrakulikuler.

Begitu pun halnya di SMK Negeri 4 Kabupaten Tangerang. Di sekolah tersebut, seni degung dimainkan oleh para siswa dan siswi dari lintas etnis. Mereka memainkan kesenian ini dengan serius.

Kepala Seksi (Kasi) Kebudayaan pada Bagian Budaya dan Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) Kabupaten Tangerang, Ahamad Syafei menjelaskan, meskipun populasinya sudah mulai menurun, namun pihaknya terus mendorong agar kesenian tradisional ini tetap lestari. “Kita terus mendorong, agar kesenian Degung ini tetap lestari. Karena ini juga merupakan bagian dari kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Tangerang, yang harus tetap dijaga kelestariannya,” ujar pria yang akrab dipanggil Pak Uuk itu.

Upaya pelestarian kesenian Degung di Kabupaten Tangerang sendiri, menurut Pak Uuk, selain memberikan pembinaan kepada sanggar-sanggar, atau kelompok penggiat kesenian ini, juga selalu menampilkannya pada acara-acara tertentu. Hal ini juga sebagai bentuk pengenalan kesenian Degung, serta pendidikan budaya kepada generasi-generasi sekarang.

“Degung ini juga menjadi salah satu pelajaran ekstrakulikuler di beberapa sekolah di Kabupaten Tangerang. Ini juga kita dorong, agar generasi sekarang juga lebih mengenal budayanya sendiri,” katanya.

Widi Hatmoko
Naskah ini pernah terbit di lensapena.id pada 7 Maret 2020