10 Juli 2020

bacaan santai sambil ngopi

ILUSTRASI (diperankan oleh model)

Kenapa Kerja Esek-esek Jadi Pilihan? Ini Kata Mereka!

PROBLEM sosial menjadi sebab musabab kenapa mereka memilih jalur pintas untuk mendapatkan ekonomi. Dari situlah, ketika sudah masuk dalam ruang remang dunia esek-esek, lambat laun semua menjadi terbiasa. Apalagi, ada dua sisi alias “two in one” yang dianggap menguntungkan: ketika berkencan, kebutuhan biologis dapet, ekonomi apalagi. Jelas dong, karena sekali kencan kan bertarif. Nah, ini yang bikin mereka mau lagi-mau lagi alias tuman.

Lalu, apa yang harus dilakukan pemerintah terhadap rakyatnya yang dirundung persoalan sosial semacam ini? Kerahkan Satpol PP, menangkap basah, lalu menggiring mereka ke panti sosial? Atau, menutup ruang-ruang yang bisa dijadikan celah mereka untuk menggelar praktik prostitusi? Dalam sebuah catatan, hal ini sudah kerap kali dilakukan.

Namun, apakah cara ini mujarab?

Ehem, ternyata, palaku-pelaku yang sebelumnya pernah digiring, dan katanya diberikan pembinaan di panti sosial, masih kambuh-kambuhan, dan mau lagi-mau lagi.

Penelusuran lingkarkata.com di salah satu tempat Spa di kawasan Gading Serpong beberapa waktu lalu, seorang terapis bernama Imel (bukan nama sebenarnya) mengaku, melakukan pekerjaan seperti ini tidak lah terlalu sulit, asal pinter ngerayu, dandan cantik, pinter ‘goyang’, pasti laku. Terlebih di Tangerang banyak pria-pria royal yang suka main perempuan. Tentu saja, ini lahan empuk bagi mereka dalam menulang pundi-pundi rupai dari “bisnis lendir” yang mereka geluti.

Imel mengaku, awalnya bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) di salah satu mall besar di wilayah tersebut. Namun karena penghasilannya kecil, ia mencari peruntungan dengan mengecer molek tubuhnya dari satu pria hidung belang ke pria lainnya.

“Awalnya panas dingin, karena belum pernah gituan sama orang yang enggak kenal. Tapi lama-lama udah biasa. Yach, jalani aja,” katanya.

Dan, ternyata, merebaknya praktik esek-esek berkedok tempat Spa ini, salah satunya ya karena dari teman-ke teman. Setelah terjun, tuman, dan mengajak teman-temannya yang lain lagi. Jadi tak heran, di kawasan ini terapisnya masih muda-muda, dan kinyis-kinyis. Ditambah lagi izin tempat usaha semacam ini, legal atau ilegal, nyatanya juga boleh. Jalas dong, cewek yang kerja di dalam ruang setengah gelap itu banyak celah untuk melakukan hal-hal terlarang dengan tamunya. Apalagi tamunya ngiler, dan terapisnya juga butuh duit. Jadilah negosiasi yang hanya mereka yang tahu.

Bisnis esek-esek di tempat Spa semacam ini, tidak terlalu berisiko buat dirinya: tidak takut digrebek, karena pihak pengelola sudah membangun jaringan baik dengan para oknum yang setiap saat akan memberikan informasi jika terjadi razia atau apa pun yang terkait dengan kegiatan mereka. Secara fisik, aman terlindungi. Apalagi bisnis ini dikelola dengan managemen yang cukup rapi, jadi tidak khawatir, jika ada pria hidung belang yang “ngeblong” alias pake tapi enggak bau bayar, pasti ada konsekwesni dari pihak managemen pengelola. Bisa dikemplang kepalanya!

Fenomena serupa juga terjadi di salah satu kawasan komersial di wilayah Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang. Beberapa waktu lalu tempat ini sempat digrebek. Lima wanita terapis, yang diduga membuka praktek prostitusi secara online digiring Satpol PP Kabupaten Tangerang. Namun, beberapa hari berselang, praktik serupa masih terjadi di kawasan ini. Makin semarak malah.

Kenapa disebut semakin semarak? Bayangkan, sampai menjelang subuh aktivitas ruko-ruko yang beberapa waktu lalu katanya disegel, hanya terlihat luarnya saja sepi. Tapi di dalamnya ada aktivitas. Tidak usah disebutkan apa aktivitas mereka, yang pasti masih seputar bisnis birahi.

Salah seorang pedagang yang setiap hari beraktivitas di kawasan ini, tak mau disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa meskipun terlihat sepi, tapi masih saja beroperasi. Karena, penawaran jasa esek-esek ini dibuka secara online, dan transaksinya dengan sistem cash on delivery (COD).

Begini cara kerjanya, sang cewek penjaja cinta sekejab itu posisinya sudah terlebuh dahulu di dalam ruko. Di dalam sana mereka tidak boleh berisik, diem, yang penting dapat order. Nah, kalau ada tamu yang mau ‘make’ mereka dimasukan ke dalam ruko secara diam-diam oleh sang joki, dan pintu langsung digembok lagi dari luar. Setelah praktik esek-esek selesai, yang di dalam telpon dengan si pemegang kunci tadi, untuk mengevakuasi tamunya yang sudah selesai menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya.

“Ceweknnya sudah di dalam Om. Kalau ada pelanggan dimasukkan, langsung digembok lagi dari luar. Jadi kesannya tutup. Entar esek-eseknya udah selesai, yang di dalam telpon keluar ke germonya yang nunggu di luar. Dibuka gemboknya terus ditutup gembok lagi dari luar, begitu seterusnya,” papar pedagang yang tak mau disebutkan namanya tersebut.

Para pelaku esek-esek ini pun ternyata berhitung, sejauh mana kemampuan Satpol PP sanggup merazia mereka. Karena menurut mereka, enggak bakal kan setiap hari Satpol PP terus-terusan merazia. Saat-saat itulah menjadi celah mereka untuk giat menawarkan jasa seks-nya ke pelanggan.

Nah, kalau begini, terus harus bagaimana?
Kita tunggu saja langkah jitu pemerintah daerah dalam menyelesaikan problem sosial yang dihadapi oleh rakyatnya tersebut.

Banyu Bening