10 Juli 2020

bacaan santai sambil ngopi

ILUSTRASI

Ketika Aturan Bikin Ojol ‘Sinis’ Lihat Ojek Konvensional Langgar PSBB

GUBERNUR Banten Wahidin Halim memutuskan jika penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tiga wilayah di Tangerang (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan) diperpanjang hingga 12 Juli 2020.

Menurut WH, PSBB diperpanjang karena masih adanya masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan di tempat-tempat umum. Pemerintah juga dinilai perlu menata kembali fasilitas layanan-layanan kesehatan untuk mendukung pencegahan COVID-19.

Dalam beberapa pemberitaan media lokal, WH juga sempat melontarkan kalimat tentang dirinya yang mengapresiasi para kepala daerah di wilayahnya, jika selama ini perekonomian masih berjalan dengan stabil.

Ehem, bagaimana dengan nasib ojek daring alias ojek online (Ojol) di wilayah Tangerang? Stabil, moncer, atau malah ‘morat-marit’?

Penelusuran lingkarkata.com ke sejumlah tukang ojek daring atau ojek online di kawasan Citra Raya, Kabupaten Tangerang mengaku bahwa pendapatannya selama penerapan PSBB ‘morat-marit’, alias kaca balau. Saking pahitnya, tukang narik penumpang dengan sepeda motor berbasis aplikasi internet ini, mau menggelar aksi unjuk rasa. Namun karena berbagai pertimbangan, serta aturan PSBB meskipun secara implementasi ‘bolong-bolong’, aksi tidak jadi digelar. Tetapi bukan berarti pula, kesulitannya mendulang ekonomi lewat usaha daring-nya tersebut tidak ditanggapi oleh pemerintah.

Andi Setiawan (40), salah seorang mitra perusahaan aplikasi Grab mengaku, sejak diterapkan PSBB dan tidak boleh membawa penumpang, ia hanya berharap pada jasa antar barang dan makanan, itu pun tidak seberapa. Karena, dalam sehari terkadang enggak dapat tarikan sama sekali. Bahkan ada yang sampai seminggu kosong ‘prontong’.

“Nich, sudah hampir seminggu nol, tidak ada masukan sama sekali. Sementara bensin harus tetap ngisi, makan juga wajib,” ujar Andi Setiawan saat ditemui di sekitar Cafe Upnormal Bunderan II Citra Raya, Senin 29 Juni 2020.

Namun demikian, harus tetap dijalani. Karena hanya ini satu-satunya sumber matapencaharian yang bisa diandalkan. Sepahit apa pun, kata Andi, jalani saja, dengan harapan pandemi COVID-19 cepat berlalu.

Keluhan juga datang dari Indrajit Tri Purnomo. Menurutnya, penerapan PSBB justru telah menyandra aktivitas Ojol dalam mencari nafkah. Betapa tidak, kata Indrajit, di saat tukang ojek berbasis aplikasi mengikuti aturan pemerintah soal PSBB, di sisi lain tukang ojek konvensional beroperasi tidak mematuhi aturan PSBB. Sehingga, hal ini menimbulkan kesenjangan.

Jelas, kalau ojek konvensional bisa mudah membawa penumpang, karena tidak diatur oleh aplikasi. Tapi bagaimana, mereka melanggar PSBB asik-asik aja. Lah, kita, mau sampai kapan?

Sementara, kata Indrajit, ia dan teman-temannya butuh makan, harus mencicil kendaraan, anak sekolah masuk tahun ajaran baru, kontrakan, serta banyak kebutuhan yang harus diselesikan: dan, sumber keuangannya hanya berharap dari pesan masuk ke aplikasi dari konsumen pengguna jasa.

Keinginannya saat ini, perusahaan tempatnya bermitra sebagai Ojol segera membuka aplikator GrabBike di wilayahnya beroperasi, Kabupaten Tangerang khususnya, agar ia bisa kembali mengangkut penumpang. Begitu pun dengan pemerintah, bisa memberikan kelonggaran kepada perusahaan tempatnya bermitra untuk membuka kembali aplikator GrabBike, agar para Ojol kembali berkiprah, bertransaksi dengan pengguna jasa dan ekonomi bergairah lagi.

“Kalau mengharuskan dengan protokol kesehatan, tentu saja kami juga siap. Karena, selama pandemi COVID-19, kita juga selalu sedia hand sanitizer,” katanya.

Soal protokol kesehatan yang lain, kata Indrajit, pemerintah harusnya ikut memberikan edukasi, jangan hanya membiarkan para Ojol ‘sinis’ melihat tukang ojek konvensional bolak-balik membawa penumpang tapi tidak taat aturan PSBB.

Widi Hatmoko