7 Agustus 2020

bacaan santai sambil ngopi

ILUSTRASI

Cerita Pendek: “Sawilem Gelunge Pok-empokan”

TAK satupun yang tahu, siapa sebenarnya perempuan ini? Utusan dari langit, atau jelmaan danyang penguasa dari Pekuncen yang menjaga desa? Setiap hari muncul mengitari desa. Datang tak diundang, pergi pun tak pernah diantar. Kehadirannya sejak puluhan tahun yang lalu juga selalu saja dalam waktu yang sama.

Seolah sudah menjadi kewajiban yang harus dijalankan. Tak pernah absen, begitu matahari terbit, kakinya langsung menapakai jalanan desa. Dari Ciparuk, ke Ciduda, lalu memutar ke arah kecamatan, pasar, dan terus menyusuri setiap gang. Seperti ada yang menggembalakan pula, ketika matahari menyusup ke bibir malam, ia kembali ke tempatnya, di seberang sebelah utara liukan Kali Tajum.

Orang-orang memanggilnya Sawilem. Ya, Sawilem. Tanpa mbok, mbah, nenek, atau nini. Cukup Sawilem saja. Saat itu usianya sudah melewati setengah abad. Kulitnya sudah mulai mengeriput. Rambutnya beruban, digelung tanpa konde, hanya seadanya dililitkan dan melingkar di kepala. Tak pernah rapi, berantakan, dan acak-acakan. Maklum, seumur hidupnya tak pernah mengenal shampo, apalagi ke salon, creambat. Seperti yang terlihat: berketombe dan kutuan. Setiap kali berjalan tangannya tak pernah diam menggaruk-garuk ketombe, dan kutunya itu.

”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”

Pekik suara mulut bocah-bocah jail yang bergerombol dilontarkan ke arah perempuan itu. Umpatan ini sudah turun-temurun dari generasi sebelumnya. Dari orang tua mereka masih kanak-kanak, sampai usia perempuan ini di ujung senja.

Langkahnya pun terhenti. Tangan yang tak pernah diam menggaruk ketombe dan kutu juga ikut diam. Melotot berbalik ke arah suara. Bocah-bocah usil itu langsung berhamburan, mencari tempat persembunyian. Hanya begitu reaksi perempuan itu: tak menampik, apalagi membalas. Lalu membalikkan tubuhnya kembali meneruskan gerik tangannya, menapaki jalanan mengitari desa.

*

Sore: Azan Asar dikumandangkan Mu’azin, digeber lewat pengeras suara. Gema penggilan pun menyebar ke penjuru desa. Sebagian orang berbondong ke mushola. Sebagian lagi hanya diam—menghentikan sejenak aktifitasnya. Jalanan sepi. Dari arah pasar Sawilem berjalan melintasi perempatan arah Desa Ciparuk. Namun, ia tidak lagi berbelok ke desa itu. Ia berjalan lurus ke arah barat.

Masih seperti hari kemarin, kemarinnya, dan kemarinnya lagi. Tak ada yang dihasilkan dari perjalanannya.Hanya umpatan-umpatan dari mulut wajah-wajah kecil yang tak pernah diam, jail setiap kali melihatnya. Kehadirannya di desa ini tidaklah merepotkan . Tak pula mengusik ketenteraman desa. Namun, seolah ia menjadi seseorang yang bersalah dan pantas untuk diperolok-olok. Umpatan tentang dirinya juga seakan penghakiman.

”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”

Di depan bekas pabrik jamu tradisional ilegal yang telah disegel Sawilem berhenti. Berdiri, diam seperti patung. Tubuhnya menghadap ke utara. Tangannya masih terus menggaruk-garuk ketombe dan kutu di kepala. Matanya menerobos rimbunan pohon-pohon bambu yang merumpun dan berjajar di atas lembah, di dekat Kali Tajum. Lalu, bangunan kecil menyerupai rumah kuburan di bawah pohon mahoni. Ya, pohon yang paling tinggi dan besar di antara pohon-pohon di sekitar rumpunan bambu. Di sampingnya terdapat sebuah sumur dengan kamar mandi yang tidak beratap, hanya dikelilingi oleh batu-batu bata yang dibaluri semen. Orang-orang menyebutnya sumur pewarasan. Rumah kecil menyerupai rumah kuburan itu adalah tempat bersemedi, ritual mengharap sesuatu,

”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”

Celoteh bocah-bocah nakal kembali mengumpat, gaduh merusak kebisuan. Dengan jiwa-jiwa pengecutnya pula: ”Hik..hik..hik..hik..” Damiri terkekeh menyelinap di balik bangunan pabrik. Darsum menyusup di semak-semak pagar pembatas, ”Kwakkkkkkk!” Menahan gelak tawa kemenangan. Darsim melompat, ”Aduuh!” Kakinya tersandung batu. Sementara Samino, Mungin, dan Kartidi berhamburan entah ke mana.

Mainan gasing, mobilan dari bekas sabut kelapa, ‘bedil-bedilan’ dari pelepah pisang, lepas dari tangan kecil si mulut jail. Berceceran jatuh ke sembarang tempat.

Seperti biasa, Sawilem tak banyak bereaksi untuk menampik apalagi membalasnya. Hanya melingkarkan bola matanya, lalu berpaling, dan meninggalkan tempat itu.

Senja pun merangkak. Rona jingga perlahan redup, hilang di bibir malam. Semua menjadi hitam, gelap, seperti harapan Sawilem yang melangkah menyeberangi Kali Tajum. Riuh bocah-bocah nakal itu pun satu persatu pulang. Bertandang ke tempatnya berdiam bersama hadirnya kabut malam yang mengurung seisi desa. Gelap. Beberapa lampu jalanan redup tak menjangkau semua malam.

*

Beberapa hari kemudian:
Tak seperti biasa. Setiap kali matahari memancarkan pijar sinarnya Sawilem melintasi setiap gang dan jalanan desa, taka terlihat. Begitu pun dengan bocah-bocah usil yang mengumpat dan mengolok-oloknya pun, sepi. Dan, ketika menjelang senja, Sawilem yang biasanya menyeberangi Kali Tajum ke tempat persembunyiannya, entah ke mana. Hanya suara resah yang bergerombol di setiap tempat, mencari keberadaan perempuan ini.

”Sawilem ke mana, ya?”
”Iya, ke mana, ya?”
“Dari kemarin nggak kelihatan.”
”Jangan-jangan?”
”Jangan-jangan, kenapa?”
”Jangan-jangan dibawa wewe gombel.”
”Wewe gombel?”
”Ah, nggak mungkin.”
”Mingkin, saja.”
”Iya, mungkin saja, Wewe gombel di dekat pohon bambu.”
”Pohon bambu yang mana?”
”Itu di dekat sumur pewarasan.”
”Ah, nggak mungkin.”
”Iya, nggak mungkin.”

Seminggu kemudian. Sawilem sudah benar-benar tak terlihat lagi melintas di gang dan jalanan desa. Pun demikian, bocah-bocah kurang ajar itu masih saja bergerombol. Sebagian di perempatan jalan arah Desa Ciparuk. Sebagian lagi membuat kelompok di jalanan menuju ke arah pasar. Begitu juga dengan Damiri Cs. Mereka berkomplot di bekas pabrik jamu ilegal yang sudah disegel. Ya, menantikan perempuan tua itu melintasi sambil menggaruk-garuk ketombe, dan kutunya. Seperti biasa, mereka akan kembali berteriak-teriak mengumpat.

”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”

Lalu, berlarian menyelinap bersembunyi sambil terkekeh-kekeh penuh kemanangan.

*

Sepuluh tahun kemudian;
Semua sudah berubah. Setelah disunat, serta selesai menghabiskan bangku sekolah anak-anak jail itu dalam kehidupannya masing-masing. Sebagian berhamburan meninggalkan masa usangnya di desa ini. Ke Kota besar. Ada juga yang tetap berdiam di desa ini, desa tempat di mana Sawilem pernah menorehkan lembaran kisah ke dalam kehidupan mereka. Tak ada lagi suara gaduh, sorak, serta umpatan jahil bocah-bocah cilik-licik di sekitar desa.

Wajah-wajah mungil yang telah menggantikan kehidupannya saat itu berganti sudah oleh anak-anak kecil yang lucu dan menyenangkan. Pesatnya pengaruh kehidupan modern mulai merambah kehidupan mereka. Sisa waktu sekolahnya pun habis di hadapan layar televisi, serta aneka mainan impor yang tak pernah ditemukan oleh bocah-bocah pada masa Damiri, Darsum, Samino, Mungin, dan Kartidi kecil. Bahkan, sekarang sudah merambah bermain game online di warnet-warnet, bermain gadged serta blackberry, produk impor yang semakin menggerogoti moral generasi.

Menjelang siang, matahari berpijar rata menjamah seisi desa. Desa di mana Sawilem pernah menapaki jalanan bersama harapannya yang kosong puluhan tahun yang lalu. Semua berjalan normal. Mengalir seperti air-air yang menyusuri Kali Tajum menuju Kali Serayu sebelum sampai ke hulu. Ibu-ibu mengirimkan kopi hangat serta makanan untuk para suami yang sejak pagi bergelut dengan tanah liat—membuat batu-batu bata di pinggir desa. Sebagian mengantarkan makanan di sawah-sawah tadah yang surut sehabis panen, dan akan digantikan dengan tanaman palawija. Ada juga yang menebar jala di liukan kali yang airnya terus mengikis daratan menjadi bagian di antara mereka.

Sawilem masih hidup di benak-benak mereka. Saat istirahat siang, usai begelut dengan liat di bawah terik matahari, nama Sawilem masih kerap menjadi perbincangan.

Di gubuk sawah tadah, tempat mereka menggantungkan harapannya, nama Sawilem juga terkadang menyelinap di antara kopi hangat, mendoan dan tempe bongkrek. Tak jarang, kelebat bayangan perempuan itu juga hadir saat jala-jala menebar di kali yang selalu di lalui perempuan using itu puluhan tahun silam. Bahkan, menjadi dongeng mereka yang sudah hidup di kota-kota besar. Saling bertukar cerita unik tentang tanah kelahirannya.

”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”

Suara itu pun seperti masih ada, dan begitu dekat dari telinga-telinga mereka. Seakan juga menjadi sesuatu yang tak akan pernah hilang dari kehidupannya. Cerita dari mulut-kemulut tentang perjalanan masa lalu perempuan itu di desa ini, tak bisa dilupakan begitu saja. Bukanlah sanak, bukanlah kadang. Kenal pun tidak, apalagi melihat batang hidungnya, namun nama Sawilem terkadang masih disebut, dan seolah sesuatu yang begitu akrab di telinga.

Kemana perempuan Sawilem itu? Kembali ke langit, atau menemui wujud aslinya di Singgasana Pekuncen, sebagai danyang penguasa penunggu desa? Atau, memang sengaja disembunyikan oleh penguasa jagat, dan tak akan pernah dikembalikan lagi di jalanan desa? Agar bocah-bocah cilik tak silih berganti mewariskan olok-olokan dan umpatan!

”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”
”Sawilem, gelunge pok-empokan!”

Kini hanya menjadi dongeng untuk anak-anaknya yang tak akan pernah lagi melihat wajah usang perempuan itu.(*

Oleh: Widi Hatmoko
Seniman, dan wartawan. Penulis buku “Perempuan Noocturnal”

Cerpen ini juga pernmah dimuat di lensapena.id pada 21 September 2019.