Membaca Erupsi Anak Krakatau dalam Bayang-Bayang Sejarah

Selat Sunda kembali bergemuruh akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Sejak Jumat malam, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau meletus tanpa henti hingga memasuki hari kedua pada Sabtu, 5 September 2026 — dan aktivitasnya tercatat sebagai yang paling intens sepanjang tahun 2026. Dentuman dan suara gemuruh dari erupsi ini bahkan terdengar hingga wilayah pesisir Banten, Lampung, dan Bandung Raya, sempat memicu kepanikan warga yang mengira suara tersebut berasal dari gempa bumi.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Selat Sunda, gemuruh dari gunung di tengah laut ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Ia adalah gaung dari salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah dunia, sekaligus pengingat akan tragedi yang belum genap satu dekade berlalu.

Kronologi Erupsi Terbaru

Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, menjelaskan bahwa letusan yang berlangsung sejak 4 September itu teridentifikasi sebagai pancaran lava atau lava fountain. Aktivitas ini disertai satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi mencapai 21.600 detik — rangkaian letusan tertinggi secara intensitas sejak gunung ini berstatus Siaga.

Secara akumulatif, Anak Krakatau telah mengalami lebih dari 240 kali letusan sejak statusnya dinaikkan ke Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Peningkatan ini sebenarnya bukan kejadian mendadak: Badan Geologi Kementerian ESDM sudah mendeteksi emisi gas SO2 dan anomali panas lewat pengamatan satelit sejak 1 Juni 2026, sebelum aktivitas kegempaan dan letusan-letusan kecil mulai bermunculan sepanjang Agustus, termasuk letusan pada 31 Agustus 2026 yang melontarkan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak.

Dampak letusan kali ini meluas hingga ke sektor penerbangan. AirNav Indonesia menerbitkan NOTAM (Notice to Airmen) yang menutup sementara ruang udara di tiga bandara sekaligus — Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta — akibat sebaran abu vulkanik yang masif.  Meski intensitasnya tinggi, otoritas memastikan status gunung tidak dinaikkan dan tetap berada di Level III (Siaga), serta menegaskan bahwa sumber letusan berasal murni dari kantong magma internal Anak Krakatau — tidak memicu aktivitas gunung api lain di Indonesia.

Anak dari Bencana Terbesar: Warisan Letusan 1883

Untuk memahami mengapa Anak Krakatau begitu diwaspadai, kita perlu menengok ke belakang, ke peristiwa yang mengguncang dunia pada akhir Agustus 1883.

Rangkaian letusan Gunung Krakatau — leluhur dari Anak Krakatau — dimulai sekitar pukul 13.00 pada 26 Agustus 1883 dan mencapai klimaksnya keesokan hari, sekitar pukul 10.00 pagi pada 27 Agustus. Ledakan tersebut melontarkan abu hingga sekitar 80 kilometer ke udara dan suaranya terdengar hingga Australia, ribuan kilometer dari Krakatau. Dampaknya bahkan menjangkau skala global: abu vulkanik membuat sebagian wilayah dunia mengalami kegelapan selama sekitar dua setengah hari, sementara suhu rata-rata global turun sekitar 1,2°C, dan pola cuaca dunia tetap tidak normal selama beberapa tahun setelahnya.

Yang paling mematikan dari letusan itu adalah tsunami raksasa yang menyusul, dengan gelombang diperkirakan setinggi 30 meter atau setara pohon kelapa, menyapu pesisir Banten dan Lampung serta menewaskan sedikitnya 36.000 orang — sebagian sumber bahkan mencatat lebih dari 30.000 jiwa dalam kombinasi tsunami dan awan panas.

Dalam Jurnal Wacana Etnik yang terbit 10 April 2013, seorang peneliti sejarah bernama Romi Zarman mengutip testimoni penyintas erupsi gunung krakatau dalam ‘Letusan Krakatau 1883 dan Korban-korbannya di Desa Nelayan Karangantu Banten: Kesaksian Ong Leng Yauw’

Ong Leng Yauw adalah orang Tionghoa yang selamat dari letusan Krakatau 1883. Dia merupakan warga yang lahir dan besar di desa nelayan Desa Karangantu, Banten. Ketika Krakatau meletus, dia berusia 14 tahun. Ia selamat karena dia disuruh ibunya membeli kue ke wilayah yang jauh dari Desa Karangantu yang lokasinya di pelabuhan. Di tengah perjalanan membeli kue, Krakatau Meletus.

“Pada bulan Januari 1937, tatkala Ong Leng Yauw berusia 68 tahun, kesaksiannya tentang dahsyatnya letusan Krakatau 1883 yang disertai gelombang tsunami itu ia kemukakan kepada Kwee Tek Hoaij yang sedang singgah di Desa Nelayan Karangantu Banten dalam rangka mengunjungi Klenteng Kwam-Im Banten. Kwee Tek Hoaij lalu menulis catatan perjalanan dan menyertakan kesaksian Ong Leng Yauw di dalamnya.”

Ong Leng Yauw berkisah pada Kwee Tek Hoaij bahwa letusan Gunung Krakatau yang menyemburkan gumpalan abu ke udara setinggi 70 kilometer, mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 40 meter dan memakan korban sebanyak 36.037 jiwa ini diawali dengan suara gemuntur selama tiga bulan. Kejadiannya tidak tiba-tiba, melainkan diawali gemuruh terus-terusan. Suara gemuntur itu juga menimbulkan banyak tanda tanya di kalangan warga saat itu. Warga banyak yang mengirim telegram ke sana ke mari untuk menanyakan apa penyebab suara itu dan dari mana asalnya. Namun, tidak satupun bisa menjawab. Tidak pula ada yang menyangka bahwa gemuntur itu asalnya dari Karakatau yang akan meletus.

“Ketika berada setengah perjalanan itu suara gelegeran mendadak jadi begitu hebat dan turun abu dengan lebat dari udara, matahari tidak kelihatan, dan siang hari berubah jadi gelap gulita, hingga tangan di depan mata tidak bisa terlihat.”

“Segala apa tertutup dalam kegelapan yang menakutkan. Selagi kita bingung dan tidak tahu mesti pergi ke mana, mendadak kedengaran suara gemuruhnya ombak, dan sebelumnya tidak bisa berdaya satu apa kita sudah tersapu dan terangkat naik ke atas.”

“Apa yang kejadian lebih jauh saya tidak tahu, sebab di seputar saya sangat gelap petang. Saya coba tolong diri sendiri dengan berenang, dan akhirnya tersangkut di satu pohon kepuh, di mana saya berdiam akan menunggu surutnya itu air.”

“Di sana-sini ramai suaranya orang berteriak minta tolong, tapi tidak kelihatan satu apa,” tulis Kwee Tek Hoaij sebagaimana dikutip Romi Zarman

Letusan 1883 secara harfiah meruntuhkan sebagian besar tubuh Krakatau, meninggalkan sebuah kaldera raksasa di dasar Selat Sunda. Dari kaldera itulah, beberapa dekade kemudian, kehidupan vulkanik baru muncul kembali.

Kelahiran dan Pertumbuhan Sang “Anak”

Aktivitas vulkanik di dalam kaldera bekas Krakatau mulai tercatat pada 1927, saat tubuh gunung yang baru ini masih sepenuhnya berada di bawah permukaan laut. Dua tahun berselang, pada 1929, puncaknya akhirnya muncul ke udara — momen kelahiran yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Sejak saat itu, Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi tubuh gunung yang berkelanjutan, tumbuh sedikit demi sedikit melalui letusan-letusan Strombolian (letusan eksplosif lemah) dan erupsi efusif berupa aliran lava. Pada September 2018, tinggi gunung ini tercatat mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut — hasil dari hampir sembilan dekade pertumbuhan tanpa henti.

Sejarah erupsinya sepanjang abad terakhir menunjukkan pola aktivitas yang datang bergelombang: setelah letusan awal pada 1927–1929, aktivitas kembali tercatat pada 20 Juni 2016, disusul letusan Strombolian pada 19 Februari 2017. Setahun kemudian, gunung ini memasuki periode erupsi panjang yang dimulai 29 Juni 2018 dan berlangsung hingga akhir tahun — periode yang berujung pada bencana yang mengubah segalanya.

Titik Balik 2018: Ketika Gunung Ambruk ke Laut

Pada 22 Desember 2018, tragedi kembali terulang dalam skala yang lebih kecil namun tetap mematikan. Berbeda dari letusan biasa, bencana kali itu dipicu oleh longsornya sebagian tubuh barat Anak Krakatau ke laut — sebuah proses destabilisasi gravitasi yang telah berlangsung lama akibat gunung tumbuh melebar di atas dinding kaldera 1883 yang sudah rapuh.

Longsoran seluas sekitar 64 hektar itu membuat Anak Krakatau kehilangan lebih dari separuh massa tubuhnya, memicu gelombang tsunami vulkanik setinggi sekitar 80 meter di dekat gunung, dan sekitar 13 meter ketika mencapai pesisir Banten dan Lampung. Karena longsoran ini tidak didahului gempa bumi maupun penurunan muka air laut yang biasa menjadi tanda tsunami, sistem pemantauan yang hanya mengandalkan sinyal seismik saat itu gagal mendeteksinya. Akibatnya, tidak ada peringatan dini yang sempat dikeluarkan.

Bencana tersebut merenggut 437 nyawa, melukai 14.059 orang, dan membuat 33.719 orang kehilangan tempat tinggal di lima kabupaten: Serang, Pandeglang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus. Tragedi 2018 menjadi pelajaran pahit sekaligus alasan mengapa Anak Krakatau kini masuk dalam daftar 12 gunung api di Indonesia yang berpotensi memicu tsunami, dan mengapa pemantauannya terus diperluas — tidak hanya mencermati pergerakan magma, tetapi juga retakan-retakan lereng yang berpotensi memicu longsor serupa.

Mengapa Erupsi 2026 Berbeda — dan Mengapa Tetap Harus Diwaspadai

Vulkanolog Institut Teknologi Bandung, Mirzam Abdurrachman, sebelumnya menjelaskan bahwa meski aktivitas Anak Krakatau pascakeruntuhan 2018 tergolong “hal biasa dan normal” dalam siklus pertumbuhan gunung, kekhawatiran akan pengulangan skenario longsor-tsunami tetap relevan. Tubuh gunung yang terus membesar sejak 2018 — dengan pertumbuhan yang tergolong cepat — membuat potensi ketidakstabilan lereng kembali menjadi perhatian, meski volumenya belum sebesar sebelum keruntuhan 2018.

Perbedaan mendasar erupsi 4–5 September 2026 dengan tsunami 2018 terletak pada mekanismenya: aktivitas kali ini bersumber dari letusan magmatik biasa berupa pancaran lava, bukan dari keruntuhan tubuh gunung. Karena itu, otoritas Badan Geologi memastikan tidak ada tanda-tanda instabilitas gravitasi seperti yang mendahului bencana 2018. Namun, mengingat sejarah bahwa fase peningkatan aktivitas magmatik dapat berujung pada ketidakstabilan lereng — seperti yang justru terjadi pada akhir 2018 — kewaspadaan tetap harus dijaga, terutama karena longsoran semacam itu dapat terjadi tiba-tiba tanpa didahului gejala vulkanik konvensional.

Saran bagi Masyarakat: Melindungi Diri dari Abu Vulkanik

Dampak paling langsung dan meluas dari erupsi Anak Krakatau bagi masyarakat di darat saat ini bukanlah tsunami, melainkan sebaran abu vulkanik yang bisa terbawa angin hingga ratusan kilometer. Berikut sejumlah langkah yang perlu diperhatikan masyarakat di wilayah terdampak, khususnya pesisir Banten, Lampung, Jakarta dan sekitarnya:

  • Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masker N95 paling ideal, namun masker kain atau bedah yang dibasahi tetap membantu mengurangi partikel abu yang terhirup. Hindari aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak selama sebaran abu masih tebal.
  • Lindungi mata dari iritasi. Abu vulkanik bersifat abrasif dan dapat menggores kornea. Gunakan kacamata pelindung, hindari mengucek mata, dan gunakan air bersih untuk membilas jika abu masuk ke mata.
  • Tutup rapat rumah dan sumber air. Tutup jendela, pintu, ventilasi, serta penampungan air bersih agar tidak tercemar abu. Bersihkan atap secara berkala agar tidak ambruk akibat penumpukan abu, terutama bila bercampur hujan.
  • Amankan saluran pernapasan bagi kelompok rentan. Lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan seperti asma sebaiknya tetap berada di dalam ruangan tertutup selama sebaran abu berlangsung.
  • Bersihkan kendaraan dan hindari mengemudi saat abu tebal. Abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat jalan licin. Nyalakan lampu kendaraan dan kurangi kecepatan bila terpaksa bepergian.
  • Pantau informasi resmi, bukan rumor. Ikuti perkembangan status gunung hanya dari kanal resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, PVMBG, dan BNPB, serta abaikan informasi yang belum terverifikasi agar tidak memicu kepanikan yang tidak perlu.
  • Kenali jalur evakuasi, khususnya bagi warga pesisir. Meski erupsi kali ini tidak disertai tanda-tanda longsor tubuh gunung, warga di zona pesisir Selat Sunda tetap disarankan mengenali titik kumpul dan jalur evakuasi terdekat sebagai langkah kesiapsiagaan, mengingat sejarah 2018 menunjukkan bencana susulan bisa datang tanpa peringatan dini yang memadai.

Anak Krakatau adalah pengingat hidup bahwa bumi di bawah Selat Sunda tidak pernah benar-benar diam. Ia lahir dari salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah manusia, dan terus tumbuh — kadang tenang, kadang mengamuk — sebagai gunung api termuda yang paling dekat diawasi di Indonesia. Kewaspadaan yang terukur, bukan kepanikan, adalah sikap paling tepat menghadapi gemuruhnya.

Related posts