43 Brand Lokal Bawa Wastra Nusantara ke Singapura

banner 468x60

Ekspansi Jenama Lokal: Membawa Wastra Nusantara ke Panggung Internasional
Pernahkah Anda melihat jaket bomber atau kaus oversize yang dipadukan dengan motif batik kontemporer, bukan batik formal untuk acara resmi? Arah estetika inilah yang saat ini sedang diperjuangkan oleh berbagai jenama lokal Indonesia. Upaya tersebut dilakukan secara serius, bahkan hingga menembus pasar Singapura.
Pada awal Juli 2026, sebanyak 43 jenama lokal Indonesia tampil dalam ajang MASA Singapore 2026 (“A Movement Across Time”). Ini merupakan sebuah gerakan budaya yang mempertemukan para kreator Indonesia di Singapura dari lintas bidang, mulai dari fesyen, desain, seni, kuliner, musik, hingga industri hospitality. Acara tersebut diselenggarakan di Takashimaya Shopping Centre dan Gardens by the Bay selama empat hari.
Kurasi Ketat demi Menjaga Kualitas
Jenama yang tampil dalam ajang ini tidak dipilih secara sembarangan. PT Sarinah, selaku pihak yang membawa rombongan ini, melakukan kurasi ketat terhadap delapan kategori produk—mulai dari desainer fesyen, pakaian wanita (womenswear), pakaian

 

pria (menswear), tekstil warisan, alas kaki, hingga aksesori dan perlengkapan rumah (home living). Kriteria pemilihan ditentukan secara jelas, meliputi kualitas produk, orisinalitas, serta kemampuan menampilkan identitas Indonesia melalui pendekatan kontemporer.
Raisha Syarfuan, Direktur PT Sarinah, menjelaskan filosofi di balik proses kurasi tersebut. “Kami percaya bahwa setiap karya yang kami bawa membawa identitas Indonesia,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa karya-karya ini memiliki potensi besar untuk menjangkau audiens internasional yang lebih luas. Lebih lanjut, ia menyebut Singapura sebagai pusat (hub) regional yang penting, karena konsumen di sana sangat menghargai kualitas, desain, dan narasi di balik sebuah produk, bukan sekadar melihat faktor harga.
Wastra yang Bersifat Fleksibel dan Kasual
Hal menarik dari perkembangan fesyen etnik Indonesia belakangan ini adalah cara generasi muda mengubah paradigma wastra tradisional dari pakaian formal menjadi bagian dari gaya busana jalanan (streetwear) harian. Kain tenun atau batik yang dahulu identik dengan acara resmi, kini diimplementasikan pada jaket, sepatu bot atau sneakers kustom, hingga tas selempang kasual yang dipadukan dengan gaya yang jauh lebih santai.
Pendekatan ini sejalan dengan tren global yang kian mengapresiasi produk dengan narasi budaya yang kuat, bukan sekadar mengandalkan logo jenama internasional. Bagi jenama lokal, pergeseran nilai ini menjadi peluang besar. Identitas budaya yang dahulu sempat dianggap kurang modern, kini justru menjadi nilai jual utama di pasar internasional.
Makna Fenomena bagi Konsumen
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang masyarakat: wastra Nusantara tidak harus selalu disimpan di museum atau hanya dikenakan sekali dalam setahun pada Hari Batik. Wastra dapat menjadi bagian dari gaya busana harian, dipadukan secara bebas, dan tetap terlihat modis—bahkan dinilai cukup representatif untuk dibawa ke panggung internasional.
Kondisi ini dapat menjadi momentum bagi konsumen untuk melihat kembali koleksi batik atau kain tradisional yang ada, guna dipadukan menjadi pilihan busana kasual yang modern dan kekinian.

1_300x250.png

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *